Suarakitanews, Aceh Utara – Enam bulan setelah bencana banjir bandang dan longsor menghantam wilayah Sumatera, ribuan penyintas di Aceh Utara masih hidup dalam keterbatasan. Di tengah kondisi yang belum pulih, seorang ibu muda bernama Nurul Akla (23) harus berjuang membesarkan bayinya di hunian sementara (huntara), tanpa penghasilan tetap dan bantuan yang belum kunjung datang.
Nurul, warga Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan dasar bayinya. Dengan mata berkaca-kaca, ia menceritakan bagaimana dirinya tidak mampu membeli susu formula karena kondisi ekonomi keluarganya yang terpuruk sejak banjir besar menerjang daerah mereka pada November tahun lalu.
“Sedih sekali. Saya sudah berusaha supaya ASI keluar, tapi tetap tidak ada. Anak harus minum susu formula, sementara kami tidak punya uang untuk membelinya,” ujar Nurul sambil menangis.
Kebun Hancur dan Penghasilan Hilang
Sebelum bencana terjadi, keluarga Nurul mengandalkan kebun sebagai sumber utama penghasilan. Namun, banjir bandang yang membawa gelondongan kayu besar menghancurkan hampir seluruh lahan pertanian warga.
Akibatnya, kebun sawit, jeruk, pinang, hingga tanaman padi milik warga rusak parah. Suami Nurul, Basriadi (30), mengatakan kebun jeruk nipis seluas satu hektare yang selama ini menjadi harapan keluarganya kini hampir musnah.
“Dari satu hektare, tinggal enam batang pohon saja yang tersisa,” ungkap Basriadi.
Selain itu, kebun sawit yang baru ditanam pun ikut hancur diterjang banjir. Padahal, menurut Basriadi, mereka membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membangun kebun tersebut.
Kini, Basriadi hanya mengandalkan pekerjaan serabutan sebagai buruh petik sawit yang tidak menentu. Bahkan, penghasilannya sering kali tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan makan keluarga sehari-hari.
Hidup di Huntara dengan Fasilitas Minim
Setelah rumah mereka hanyut diterjang banjir, Nurul dan keluarganya kini tinggal di huntara sederhana berukuran 6×6 meter yang dibangun relawan dari kayu bekas banjir.
Meski sudah memiliki tempat berteduh, kehidupan di huntara tetap penuh kesulitan. Selama berbulan-bulan, warga tidak memiliki akses air bersih dan listrik yang layak.
Bahkan hingga kini, air yang tersedia disebut masih berwarna kuning dan berbau sehingga tidak layak dikonsumsi. Selain itu, fasilitas kamar mandi pun sangat terbatas.
“Kami mandi di kamar mandi darurat dari kayu. Kalau buang air harus ke kebun,” kata Basriadi.
Trauma dan Tekanan Saat Hamil
Di tengah situasi pengungsian yang sulit, Nurul juga harus menjalani masa kehamilan tanpa pemeriksaan kesehatan rutin. Ia mengaku tidak menerima vitamin maupun layanan kesehatan memadai selama tinggal di tenda pengungsian.
Akibat tekanan mental dan kondisi ekonomi yang berat, Nurul mengalami stres menjelang persalinan. Tenaga kesehatan bahkan menyebut dirinya sulit mengalami kontraksi karena beban pikiran yang terus menghantui.
“Saya terus memikirkan bagaimana nanti setelah melahirkan. Ekonomi tidak ada, suami juga tidak punya penghasilan tetap,” ujarnya.
Bantuan Pemerintah Dinilai Belum Terealisasi
Sementara itu, keluarga penyintas mengaku masih menunggu bantuan pemerintah yang sebelumnya dijanjikan. Bantuan tersebut meliputi uang jatah hidup, bantuan isi rumah, hingga modal usaha untuk memulai kembali kehidupan mereka.
Namun hingga kini, menurut Basriadi, bantuan tersebut belum diterima warga secara menyeluruh.
“Kami hanya banyak dibantu relawan. Huntara ini pun bantuan dari relawan,” katanya.
Padahal, pemerintah daerah sebelumnya menyebut bantuan dari pemerintah pusat sedang dalam proses pencairan untuk ribuan keluarga terdampak banjir di Aceh Utara.
Berjuang Demi Masa Depan Anak
Meski hidup dalam keterbatasan dan trauma yang belum hilang, Nurul dan Basriadi memilih untuk terus bertahan demi anak-anak mereka.
Nurul mengaku masih bersyukur karena keluarganya tetap bersama setelah bencana besar itu menghancurkan kehidupan mereka.
“Walaupun hidup susah, saya masih bersyukur karena masih bersama suami dan anak-anak,” ucap Nurul.
Di tengah ketidakpastian, pasangan muda itu berharap dapat kembali bertani jika bantuan modal usaha benar-benar diberikan pemerintah.
“Kami akan terus berjuang bersama-sama demi masa depan anak-anak kami,” tutup Nurul.
Penulis: Mita Putri






