Suara Kita News. Com. KARAWANG – Ada yang berbeda dengan keriuhan di tengah masyarakat Jawa Barat akhir pekan ini. Bukan sekadar rapat dengar pendapat yang kaku, Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi Golkar, Sri Rahayu Agustina, mendobrak tradisi formal kedewanan dengan menghadirkan Festival Rakyat Berbasis Budaya.
Acara yang dimulai sejak pukul 07.00 WIB ini berhasil mengubah wajah “serap aspirasi” menjadi pesta rakyat yang fungsional sekaligus menghibur.
Layanan Publik dalam Satu Atap
Inovasi utama dalam gelaran ini adalah diboyongnya berbagai layanan birokrasi langsung ke tengah pemukiman. Masyarakat tidak perlu lagi mengantre lama di kantor dinas. Di bawah tenda festival, warga bisa mengakses:
Administrasi Kependudukan: Perekaman KTP-el, pembuatan Akta Kelahiran/Kematian, pemutakhiran KK, cetak KIA, hingga aktivasi IKD.

Layanan Berkendara: Perpanjangan SIM keliling yang siap saji.
Cek kesehatan gratis, vaksinasi hewan peliharaan, hingga pasar “Tebus Murah” sayuran untuk menjaga ketahanan pangan keluarga.
”Kami ingin negara hadir di tengah masyarakat dengan cara yang paling menyenangkan. Sambil berbelanja UMKM dan menonton silat, urusan administrasi warga selesai,” ujar Sri Rahayu di sela-sela peninjauan stan.
Semangat festival ini tidak berhenti pada layanan publik. Setelah peluh senam pagi bersama warga mengering, panggung utama mulai bergetar dengan dentum gendang.
Sore hari menjadi puncak estetika festival dengan penampilan Tari Jaipong, atraksi Pencak Silat, dan kemeriahan Bajidor.
Kehadiran seni tradisional ini bukan sekadar hiburan, melainkan upaya konsisten Sri Rahayu dalam menjaga identitas budaya Jawa Barat di tengah arus modernisasi.
Sri Rahayu menegaskan bahwa model “Sapa Warga” ini bukan sekadar seremoni sekali jalan. Program ini telah diagendakan secara rutin setiap tiga bulan sekali dengan lokasi yang berpindah-pindah (bergilir) di seluruh wilayah Jawa Barat.
”Ini adalah jembatan. Melalui festival ini, kami menyerap aspirasi untuk membangun daerah. Rakyat lebih nyaman berbicara saat suasana hati mereka bahagia,” tambahnya
Dengan konsep ini, Sri Rahayu membuktikan bahwa politik tidak selamanya tentang angka dan kebijakan di atas kertas, tapi tentang kehadiran nyata, pelayanan prima, dan pelestarian budaya yang menyatukan hati warga.
penulis : Yerrydewa






