Suarakitanews – Timnas Italia kembali mencatat sejarah kelam setelah gagal lolos ke Piala Dunia 2026, usai kalah dramatis dari Bosnia-Herzegovina melalui adu penalti. Dengan hasil ini, Gli Azzurri resmi absen dalam tiga edisi Piala Dunia secara berturut-turut—sebuah pencapaian yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
Malam Kelam di Zenica
Pertandingan yang berlangsung di Stadion Bilino Polje, Zenica, menjadi malam penuh luka bagi Italia. Meskipun bermain dengan 10 orang, mereka tetap mampu memaksakan laga hingga adu penalti. Namun demikian, keberuntungan tidak berpihak.
Pelatih Gennaro Gattuso tampak tak kuasa menahan air mata setelah pertandingan usai. Ia bahkan menyatakan bahwa masa depannya tidaklah penting dibandingkan kekecewaan yang dirasakan seluruh rakyat Italia.
Sementara itu, pemain seperti Leonardo Spinazzola mengungkapkan ketidakpercayaan atas hasil tersebut. Menurutnya, Italia seharusnya mampu mencetak lebih banyak gol sebelum pertandingan berakhir.
Perjalanan Panjang Menuju Kegagalan
Jika ditarik ke belakang, kegagalan ini bukanlah sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba. Sejak menjuarai Piala Dunia 2006, performa Italia terus mengalami penurunan.
Pada Piala Dunia 2010 dan Piala Dunia 2014, Italia gagal lolos dari fase grup.
Kemudian, mereka absen di Piala Dunia 2018 dan Piala Dunia 2022.
Meski sempat bangkit dengan menjuarai UEFA Euro 2020, performa itu ternyata hanya menjadi pengecualian.
Bahkan, pada UEFA Euro 2024, mereka harus tersingkir di babak 16 besar.
Masalah Taktik dan Pergantian Pelatih
Dalam proses kualifikasi, Italia juga mengalami ketidakstabilan di kursi pelatih. Luciano Spalletti sempat dipecat setelah kekalahan telak dari Norwegia.
Selanjutnya, Gattuso mengambil alih dan sempat membawa harapan baru dengan lima kemenangan beruntun. Akan tetapi, kekalahan besar kembali membuat Italia harus melalui jalur play-off yang akhirnya menjadi awal dari kegagalan.
Akar Masalah: Krisis Talenta dan Regulasi
Salah satu penyebab utama keterpurukan Italia adalah berkurangnya kualitas pemain muda. Sejak putusan Bosman Ruling, arus pemain asing ke Serie A meningkat drastis.
Akibatnya, pemain muda lokal semakin sulit mendapatkan menit bermain. Di sisi lain, akademi sepak bola Italia dinilai gagal menghasilkan talenta siap pakai seperti era sebelumnya.
Faktor Finansial dan Infrastruktur
Tidak hanya di lapangan, masalah juga terjadi di luar lapangan. Berbeda dengan liga lain, klub-klub Italia tertinggal dalam hal pendapatan dan investasi.
Selain itu, banyak stadion di Italia yang belum dimodernisasi. Hal ini berdampak langsung pada pemasukan klub dan daya saing mereka di level Eropa.
Legenda Italia, Alessandro Del Piero, bahkan menegaskan bahwa pembenahan stadion dan sistem pembinaan pemain muda adalah kunci utama kebangkitan.
Mentalitas yang Terluka
Terakhir, faktor mental juga menjadi sorotan. Kekalahan dari Swedia dan Makedonia Utara di masa lalu meninggalkan trauma yang belum sepenuhnya pulih.
Kini, kekalahan dari Bosnia-Herzegovina semakin memperpanjang daftar luka tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa Italia tidak hanya mengalami krisis teknis, tetapi juga krisis kepercayaan diri.
Kesimpulan
Italia gagal lolos Piala Dunia 2026 bukan sekadar hasil buruk dalam satu pertandingan. Sebaliknya, ini adalah akumulasi dari berbagai masalah, mulai dari regenerasi pemain, manajemen liga, hingga mentalitas tim.
Jika tidak segera berbenah, bukan tidak mungkin Gli Azzurri akan semakin tertinggal dari negara-negara lain di panggung sepak bola dunia.
Penulis: Mita Putri








