Suara Kita News.com – KARAWANG – Suasana lobi Kantor Bupati Karawang usai salat Jumat yang biasanya formal, seketika berubah menjadi ruang curahan hati yang mengharukan. Seorang pasangan suami istri tampak tertunduk lesu, membawa beban batin yang telah mereka pikul selama sembilan tahun: depresi berat anak semata wayang mereka, AMD.
Bukan sekadar keluhan administrasi, yang mereka bawa adalah luka fisik dan batin. Selama hampir satu dekade, kasih sayang mereka dibalas dengan cacian bahkan kekerasan fisik oleh sang putra yang tengah berjuang dengan kondisi mentalnya.
Bupati Karawang, H. Aep Syaepuloh, yang menemui langsung pasangan tersebut, menangkap gurat ketakutan yang nyata. “Bapak dan Ibu ini memiliki trauma mendalam. Mereka sering dipukuli dan dicaci. Kondisi ini membuat mereka belum siap secara psikologis untuk menerima kembali kehadiran putranya di rumah,” ungkap Bupati Aep dengan empati.
Memahami bahwa masalah ini bukan hanya soal medis pasien, Bupati Aep mengambil langkah yang jarang tersentuh birokrasi: Menyembuhkan sang penyembuh. ### Solusi Dua Arah: Memulihkan Anak, Mengobati Orang Tua Pemerintah Kabupaten Karawang kini meluncurkan langkah penanganan terpadu yang membagi fokus pada dua sisi:
- Penyembuhan Orang Tua (Trauma Healing): Pemerintah akan memberikan pendampingan psikologi khusus bagi kedua orang tua. Tujuannya agar mereka pulih dari trauma dampak perilaku anak, sehingga fungsi keluarga bisa kembali harmonis di masa depan.
- Perawatan Medis Intensif: Saat ini, ananda AMD telah berada di RSJ Dr. H. Marzoeki Mahdi, Bogor. Selama 14 hari, kondisi mental dan kesehatannya akan diobservasi secara total oleh para ahli.
- Rehabilitasi Sosial: Pasca-perawatan di Bogor, AMD tidak akan langsung dipulangkan untuk menjaga stabilitas mental keluarga. Ia akan dititipkan di selter Yayasan Panti Darma Sosial, Kecamatan Batujaya, untuk menjalani pendampingan mental berkelanjutan.
Langkah cepat ini menunjukkan bahwa isu kesehatan mental di Karawang bukan lagi dianggap tabu, melainkan prioritas. Bupati Aep menegaskan bahwa setiap warga negara berhak merasa aman, bahkan di dalam rumah mereka sendiri.
“Kita tidak hanya ingin menyembuhkan anaknya, tapi kita juga ingin mengembalikan rasa aman bagi orang tuanya. Keduanya adalah prioritas kami.” — H. Aep Syaepuloh.
Kisah di lobi kantor Bupati siang itu menjadi pengingat bahwa kepemimpinan yang kuat dimulai dari telinga yang mau mendengar dan tangan yang cepat merangkul mereka yang tak berdaya.
Penulis : Yerrydewa






