Suara Kita News.com – KARAWANG — Di tengah padatnya agenda birokrasi, Bupati Karawang, H. Aep Syaepuloh, memilih sejenak menanggalkan atribut formalnya untuk melakukan perjalanan yang paling emosional: pulang ke akar.
Bagi orang nomor satu di Karawang ini, Anggadita bukan sekadar titik koordinat geografis. Ia adalah saksi bisu di mana mimpi seorang anak manusia pertama kali disemai di tengah keterbatasan.
Ada pesan tersirat yang mendalam saat H. Aep kembali menyusuri jalanan tanah kelahirannya. Ia tidak datang sebagai pejabat yang berjarak, melainkan sebagai putra daerah yang ingat betul bagaimana rasanya memulai segalanya dari langkah-langkah kecil yang dulu sempat tertatih.
“Bukan tentang seberapa tinggi kita melangkah, tapi tentang sejauh mana kita tetap ingat dari mana kita berasal,” tulisnya dalam sebuah refleksi personal yang menyentuh.
Momentum kepulangan ini ditandai dengan aksi berbagi yang ia sebut sebagai “sedikit rezeki yang kembali pulang.” Sasaran utamanya adalah dua pilar ketabahan masyarakat:
- Para Lansia (Jompo): Mereka yang menyimpan ribuan kisah sejarah desa dalam guratan wajahnya.
- Anak-Anak Yatim: Generasi yang mengajarkan arti ketegaran sejak usia dini.
Bagi H. Aep, kesuksesan sejati diukur dari siapa yang tetap digenggam tangannya saat seseorang sudah mencapai puncak. Kehadirannya di tengah warga Anggadita menjadi bukti bahwa kursi kekuasaan tidak pernah benar-benar memisahkan dirinya dari tanah yang membesarkannya.
Di penghujung pertemuannya, terselip permohonan tulus yang jauh dari kesan politis. Ia memohon doa agar keluarganya senantiasa sehat dan dikaruniai keturunan yang saleh serta salehah.
Namun yang paling krusial adalah permohonan agar dirinya tetap istiqomah menjaga amanah. Di tengah tantangan memimpin Karawang, doa dari para lansia dan anak yatim di tanah kelahirannya diyakini menjadi kekuatan spiritual utama untuk kelancaran tugas-tugas kenegaraan.
Penulis : Yerrydewa






