Suara Kita News. Com, KARAWANG – Matahari di ufuk barat Karawang mulai kehilangan taringnya, menyisakan semburat jingga yang memantul di kaca spion ribuan kendaraan. Di antara deru mesin dan kepulan asap knalpot, sebuah pemandangan kontras tersaji di persimpangan jalan. Bukan klakson yang bersahutan, melainkan tangan-tangan yang terulur membawa pesan hangat: “Selamat berbuka.”
Sore itu, jajaran BPPKB Banten DPC Karawang mengubah trotoar yang kaku menjadi panggung kemanusiaan. Ratusan paket takjil berpindah tangan, menyapa para pejuang nafkah yang masih terjebak macet menjelang azan Magrib.
Di tengah keriuhan itu, Ketua BPPKB Banten DPC Karawang, Endang Suhari, tampak berdiri mengamati ritme berbagi tersebut. Baginya, setiap paket yang dibagikan adalah representasi dari eksistensi organisasi yang ia pimpin.
“Ini bukan sekadar agenda tahunan untuk menggugurkan kewajiban. Kami ingin menegaskan bahwa BPPKB Banten hadir sebagai garda terdepan bagi masyarakat Karawang, bukan hanya dalam kata-kata, tapi dalam aksi nyata,” ujar Endang dengan nada tegas namun tenang.
Pernyataan Endang seolah menjawab skeptisisme publik terhadap organisasi kemasyarakatan (Ormas). Di sini, mereka memilih narasi yang berbeda: Narasi pelayanan.
Senada dengan Endang, Sekeretaris BPPKB Banten DPC Karawang, AL Ramdhani, melihat momentum ini sebagai “pernyataan sikap”. Di tengah dinamika sosial Karawang yang kompleks, berbagi takjil adalah cara paling organik untuk menyentuh akar rumput.
“Kegiatan ini adalah bukti bahwa kami ada dan akan terus ada. Ramadan hanyalah pengingat, namun semangat berbagi ini adalah fondasi organisasi kami,” ungkap Ramdhani.
ada pesan tersirat yang muncul di setiap persimpangan jalan selama Ramadan. Apakah kepedulian sosial ini akan menguap seiring berakhirnya gema takbir?
Karawang, sebagai kota industri yang heterogen, membutuhkan lebih dari sekadar bantuan musiman. Namun, langkah kecil di persimpangan jalan ini adalah sebuah kepedulian.
Sejauh mana ormas mampu bertransformasi menjadi solusi bagi masalah sosial di hari-hari biasa?
Bahwa di balik hiruk-pikuk politik dan ekonomi, ada kebutuhan dasar manusia untuk saling peduli.
Kegiatan berbagi takjil ini mungkin terlihat sederhana dalam skema besar masalah kota. Namun, di mata seorang sopir angkot yang belum sempat menepi atau buruh pabrik yang masih jauh dari rumah, paket takjil itu adalah oase.
Kehadiran organisasi tidak lagi dinilai dari seberapa lantang teriakan di mimbar, melainkan dari seberapa sering mereka hadir saat masyarakat membutuhkan—bahkan sesederhana sebungkus makanan pembuka puasa.
Penulis : Yerrydewa






