Suara Kita News. Com -MEDAN – Gejolak penolakan terhadap pengangkatan Kepala Lingkungan (Kepling) kembali memanas di Kota Medan. Puluhan ibu rumah tangga (emak-emak) yang merupakan warga Jalan Perwira II, Lingkungan IX, Kelurahan Pulo Brayan Bengkel, melakukan aksi unjuk rasa di Kantor Camat Medan Timur, Jalan HM Said, Jumat (6/3) pagi.
Massa menuntut Walikota Medan, Rico Waas, untuk segera menonaktifkan Camat Medan Timur dan Lurah Pulo Brayan Bengkel. Keduanya dituding tidak netral dan diduga melakukan “skenario” dalam penetapan M. Salim sebagai Kepling IX.
Kericuhan sempat pecah saat warga yang telah menunggu lebih dari tiga jam merasa diabaikan. Ketegangan baru mereda setelah Camat Medan Timur, Fernanda, bersedia menemui massa di aula kantor camat.
Perwakilan warga, Irmawati, menegaskan bahwa penolakan terhadap M. Salim didasari oleh rekam jejak yang buruk saat yang bersangkutan menjabat pada periode 2021-2022.
“Kami kecewa. Saat menjabat dulu, beliau tidak amanah. Urusan surat-menyurat dipersulit dan bantuan sosial sering tidak sampai ke tangan warga, diduga ditimbun,” ujar Irmawati kepada wartawan.
Senada dengan itu, Rini, warga lainnya, membandingkan Salim dengan kandidat lain, Endang Priska, yang diklaim mendapat dukungan 350 tanda tangan warga.
“Ibu Endang selalu humanis dan menggratiskan semua urusan administrasi. Sementara Salim dulu apa-apa pakai uang. Kenapa orang yang kinerjanya buruk justru dipilih kembali? Kami menduga ada permainan uang di balik ini,” cecar Rini.
Menanggapi tudingan miring tersebut, Camat Medan Timur, Fernanda, menyatakan bahwa pengangkatan Kepling telah sesuai dengan mekanisme yang diatur dalam Perda Kota Medan Nomor 9 Tahun 2017 dan Perwal Nomor 21 Tahun 2021.
Fernanda berkilah bahwa berdasarkan hasil verifikasi, M. Salim mendapatkan nilai evaluasi yang lebih tinggi dibandingkan Endang Priska.
Pernyataan ini sontak memicu teriakan protes dari warga yang menilai parameter penilaian tersebut telah dimanipulasi.
“Kami tetap akan melakukan pengawasan ketat. Jika nantinya M. Salim terbukti melanggar ketentuan atau kembali mengecewakan warga, kami tidak segan untuk melakukan pencopotan,” tegas Fernanda di hadapan massa.
Ketidakpuasan warga terhadap jawaban Camat memicu kemarahan yang lebih besar. Warga menilai Walikota Medan Rico Waas kurang tegas dalam mengawasi proses seleksi di tingkat bawah, sehingga membuka celah terjadinya praktik “titipan” oknum tertentu.
“Kami minta Walikota segera mencopot Camat dan Lurah karena tidak netral. Jika aspirasi ini tidak didengar, kami akan membawa massa yang lebih besar ke Kantor Walikota Medan,” pungkas salah seorang ibu rumah tangga sebelum membubarkan diri dengan tertib.
penulis : Tim






