Suarakitanews – Longsor hebat yang melanda Kampung Cigobang, Kabupaten Lebak, Banten, pada Januari 2020 memang telah berlalu. Namun, bagi para warganya, bencana itu belum benar-benar berakhir. Enam tahun pasca longsor Lebak, mereka masih hidup di hunian sementara (huntara) tanpa kepastian masa depan.
“Ibu Yati… cepat keluar! Lari! Lari!”
Teriakan itu masih terngiang di kepala Yati hingga kini. Malam itu, warga Kampung Cigobang berlarian ke hutan, menyelamatkan diri dari longsor tanpa sempat membawa apapun. Sejak saat itu, hidup mereka berubah selamanya.
Bertahan di Pengungsian, Lalu Membangun Huntara Mandiri
Setelah bencana, warga sempat tinggal berbulan-bulan di posko pengungsian Cipanas, Lebak. Namun, bantuan dan solusi jangka panjang tak kunjung datang. Pada 2022, mereka akhirnya membangun huntara secara mandiri, sekitar 15 kilometer dari lokasi pengungsian.
“Waktu pindah ke sini masih hutan. Ternyata beda provinsi,” ujar Cicih, salah satu warga pengungsi.
Selain itu, warga harus mencari kayu sendiri dari hutan. Sebelum huntara berdiri, mereka tidur di bilik-bilik terpal yang rawan bocor dan dingin. Bahkan, untuk air bersih pun mereka harus berjalan turun ke sungai.
“Dulu ambil air harus turun-naik sambil menggendong bayi,” kenang Cicih.
Hidup dari Buruh Tani dan Bantuan Seadanya
Eman, suami Cicih, bekerja sebagai buruh tani di ladang warga sekitar. Sementara itu, ia juga menanam singkong dan pisang di belakang hunian demi menyambung hidup. Terkadang, bantuan datang dari relawan atau pemerintah, tetapi tidak cukup untuk mengubah keadaan.
Hingga kini, para pengungsi longsor Kampung Cigobang merasa terabaikan. Jalan menuju huntara belum diaspal dan hunian tetap yang dijanjikan tak kunjung terwujud.
Kontras Nasib: Satu Bencana, Dua Perlakuan
Ironisnya, tidak jauh dari huntara tersebut, korban bencana dari Kabupaten Bogor sudah menempati hunian tetap dengan jalan beraspal. Di sisi lain, warga Kampung Cigobang masih harus bergulat dengan tanah merah dan jalan licin.
Akibatnya, anak-anak mereka harus berjalan naik turun bukit untuk bersekolah. Bahkan, sebagian anak terpaksa putus sekolah karena sulitnya akses dan ketiadaan biaya.
Janji Pemerintah dan Napas Panjang Pengungsi
Gubernur Banten, Andra Soni, menyatakan akan berbagi beban dengan Pemerintah Kabupaten Lebak untuk menangani pengungsi, mulai dari pengaspalan jalan hingga penyediaan hunian tetap.
Meski demikian, Rahman, salah satu pengungsi, hanya bisa menarik napas panjang. Janji serupa telah sering mereka dengar selama bertahun-tahun.
“Kenapa negara orang lain diurusin, tapi rakyatnya sendiri diabaikan? Kami seperti tidak terlihat, padahal jarak ke Jakarta tidak jauh,” ujar Rahman lirih.
Enam Tahun Menunggu Kepastian
Enam tahun setelah longsor Lebak, warga Kampung Cigobang masih hidup dalam ketidakpastian. Mereka selamat dari bencana alam, tetapi kini berjuang melawan bencana lain yaitu pengabaian.
Penulis: Mita Putri






