Suara Kita News.com, CILAMAYA WETAN – Mengenakan sepatu boots dan menembus sisa genangan, Bupati Karawang H. Aep Syaepuloh, didampingi Kapolres dan Dandim 0604 Karawang, meninjau langsung episentrum banjir di Desa Muarabaru, Kecamatan Cilamaya Wetan. Kehadiran “Tiga Pilar” ini membawa pesan kuat: penanganan banjir akibat jebolnya tanggul Kalibawah bukan sekadar urusan logistik, melainkan pemulihan martabat ekonomi warga.
Delapan hari sudah warga Muarabaru bergelut dengan air. Namun, fokus Bupati kali ini melampaui masa darurat; ia membidik penyelamatan sektor pertanian dan perbaikan infrastruktur permanen.
Bencana ini memukul telak jantung ekonomi desa—ratusan hektare sawah yang baru saja memasuki masa tanam (tandur) kini menyerupai lautan. Menanggapi ancaman gagal tanam masal, Bupati Aep mengambil langkah progresif melalui Dinas Pertanian.
“Kita tidak ingin petani jatuh tertimpa tangga. Saya sudah instruksikan Dinas Pertanian untuk mendata secara presisi. Setiap petak sawah yang rusak akan kita ganti bibitnya secara gratis agar petani bisa langsung menanam kembali begitu air surut,” tegas Bupati Aep.
Menyadari bahwa kewenangan aliran sungai berada di tingkat pusat, Bupati Aep melakukan langkah taktis dengan menjalin koordinasi intensif bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) dan Perum Jasa Tirta (PJT) II.
Langkah inovatif yang ditawarkan Pemda Karawang adalah skema bantuan aksesibilitas. Bupati menjamin pihaknya akan membuka jalur distribusi khusus agar alat berat dan material milik BBWS dapat menembus lokasi titik jebol tanpa hambatan.
“Kami tidak hanya menunggu. Pemda siap membuka akses jalan dan menyediakan segala kebutuhan pendukung agar alat berat BBWS bisa secepatnya melakukan penambalan permanen. Penundaan berarti memperpanjang penderitaan warga,” tambahnya.
Kunjungan ini menegaskan pola kepemimpinan kolaboratif di Karawang. Kehadiran Kapolres dan Dandim memastikan bahwa aspek keamanan dan distribusi bantuan berjalan tanpa celah, sementara Bupati memastikan mesin birokrasi bergerak cepat pada aspek pemulihan ekonomi dan fisik.
Bagi warga Muarabaru, kehadiran para pemimpin ini bukan sekadar kunjungan empati, melainkan sebuah kontrak kerja untuk memastikan tanggul Kalibawah tidak lagi menjadi ancaman di masa depan.
Penulis : Yerrydewa






