Suara Kita News.com, RENGASDENGKLOK – Di tengah kepungan luapan Sungai Citarum yang belum sepenuhnya surut, denyut nadi kemanusiaan dan optimisme pembangunan justru menguat. Mengunjungi titik-titik pengungsian bukan sekadar rutinitas birokrasi, melainkan upaya memastikan bahwa negara hadir tepat di samping bantal para pengungsi.
Didampingi Kepala BPBD, Dirut RSUD Dengklok, serta jajaran kepala desa, kami melakukan inspeksi mendalam untuk memastikan rantai pasok kebutuhan dasar tidak terputus.
Fokus utama kami saat ini adalah Zero Hunger dan Health Safety. Kami memastikan ketersediaan: Makanan bayi dan susu formula. Pampers, selimut hangat, dan pakaian layak. Obat-obatan esensial guna mengantisipasi penyakit pasca-banjir.
“Pemerintah Daerah bekerja dalam siklus 24 jam. Status kesiapsiagaan BPBD berada pada level tertinggi. Kami tidak hanya memonitor angka tinggi muka air, tapi memastikan setiap warga di pengungsian bisa tidur dengan layak,” tegas kami di hadapan warga.
Banjir kali ini menjadi momentum evaluasi total. Sambil menyerap aspirasi warga dan berdiskusi dengan para lurah di tenda pengungsian, sebuah Masterplan Rengasdengklok mulai dirumuskan. Kami tidak ingin sekadar “menambal sulam” masalah setahun sekali.
Langkah strategis yang sedang dimatangkan meliputi, Normalisasi embung di Dengklok Utara dan pembenahan total sistem drainase perkotaan. Revitalisasi pasar dan pembangunan taman kota sebagai ruang publik yang humanis. Penertiban bangunan liar guna mengembalikan fungsi lahan sesuai peruntukannya.
Seluruh langkah ini bukan sekadar wacana. Saat ini, tim sedang merumuskan alokasi anggaran yang presisi agar penataan Rengasdengklok menjadi prioritas pembangunan daerah. Targetnya jelas: Rengasdengklok yang rapi, tangguh bencana, dan nyaman dihuni.
Kami memohon doa dan dukungan dari seluruh elemen masyarakat. Semoga air lekas surut, dan kita bisa melangkah bersama menuju pemulihan yang lebih kuat.
Penulis : Yerrydewa






