Suarakitanews – Jayapura, Ironi masih menyelimuti kehidupan masyarakat adat Suku Elseng di Papua. Lebih dari tiga puluh tahun setelah diminta meninggalkan cara hidup nomaden dan menetap di kampung yang dibangun pemerintah, warga Kampung Omon, Kabupaten Jayapura, hingga kini masih hidup tanpa listrik, sekolah, dan fasilitas kesehatan.
Padahal, kebijakan relokasi tersebut dahulu dijanjikan sebagai jalan menuju kehidupan yang lebih layak. Namun kenyataannya, janji pembangunan itu tak kunjung terwujud.
Terisolasi di Perbukitan Jayapura
Berdasarkan laporan BBC News Indonesia, yang mengunjungi Kampung Omon bersama Komunitas Medis Papua Tanpa Batas pada Desember 2025, lokasi kampung ini berada di perbukitan sisi selatan Kabupaten Jayapura.
Satu-satunya akses menuju kampung hanyalah dengan berjalan kaki, menembus hutan dan menyeberangi sungai.
Ketika tim tiba, warga tengah berkumpul di balai kampung untuk merayakan ibadah Natal. Cahaya lilin menerangi wajah-wajah lelah, sementara nyanyian pujian menggema di tengah sunyinya hutan Papua.
Namun demikian, Kampung Omon hampir selalu kosong. Warga hanya datang sesekali, lalu kembali ke hutan untuk mencari sagu dan berburu, mempertahankan cara hidup lama karena kampung tidak menyediakan kebutuhan dasar.
Tanpa Tenaga Kesehatan, Ibu Melahirkan Sendiri
Lebih memprihatinkan lagi, tidak ada tenaga kesehatan yang menetap di Kampung Omon. Akibatnya, ibu-ibu terpaksa melahirkan sendiri di rumah, tanpa bantuan medis.
Menurut pengakuan warga, banyak perempuan meninggal saat melahirkan. Selain itu, penyakit seperti malaria dan ISPA menjadi keluhan utama masyarakat.
Ketika ada warga yang sakit parah, mereka harus dipikul berjalan kaki berjam-jam, bahkan berhari-hari, melewati hutan belantara untuk mencari pertolongan medis.
Bantuan Datang, Tapi Tidak Menentu
Beberapa tahun terakhir, warga Suku Elseng mulai menerima layanan kesehatan dari Komunitas Medis Papua Tanpa Batas. Akan tetapi, kedatangan relawan tidak menentu karena harus melayani banyak wilayah terpencil lainnya.
“Kami baru bisa tinggal di Kampung Omon karena kepala kampung mulai bangun kampung ini. Tapi sampai sekarang kami tidak punya sekolah dan tidak punya pelayanan kesehatan. Orang tua kami banyak yang meninggal di jalan saat dipikul untuk berobat, lalu dikubur di tengah jalan,” ujar Yafet Teet, warga Kampung Omon.
Sementara itu, Yuliana Teet mengungkapkan kelelahan warga yang terus hidup dalam kondisi serba kekurangan.
“Dari dulu sampai sekarang kami harus pikul orang sakit. Kami sudah capek, sudah bosan. Kami sangat membutuhkan jalan, pendidikan, dan kesehatan,” katanya.
Aspirasi Tak Pernah Didengar
Kepala Kampung Omon, Frans Tabisu, mengaku telah berulang kali mengajukan permohonan pembangunan kepada pemerintah daerah melalui forum Musrenbang tingkat distrik. Namun hingga kini, tak satu pun usulan tersebut terealisasi.
Akibatnya, warga mulai kehilangan harapan. Mereka bahkan enggan menghadiri rapat pembangunan, karena merasa suara mereka tidak pernah didengar.
Di sisi lain, Wakil Bupati Jayapura, Haris Yocku, menyatakan pemerintah daerah berencana menganggarkan pembangunan jalan menuju Kampung Omon pada tahun 2026. Jalan tersebut diklaim akan memangkas jarak tempuh dari Jayapura.
Namun bagi warga Suku Elseng, janji itu bukanlah hal baru. Mereka telah menunggu selama puluhan tahun di tengah hutan, di bawah cahaya lilin, sambil berharap negara benar-benar hadir.
Penulis: Mita Putri






