Suara Kita News.com, MUMBAI, 10 Juli 2025 – Fenomena pengemis berpenghasilan fantastis bukan lagi sekadar mitos, melainkan realitas mencengangkan yang terus menjadi sorotan global. Di balik penampilan yang seringkali mengundang belas kasihan, tersembunyi kekayaan luar biasa yang dibangun hanya bermodalkan simpati publik. Salah satu nama yang paling menonjol dalam narasi ini adalah Bharat Jain, seorang pria asal Mumbai, India, yang dinobatkan sebagai salah satu pengemis terkaya di dunia.
Kisah Bharat Jain bagaikan plot film, di mana seorang individu dari latar belakang serba terbatas mampu menembus batas kemiskinan dengan cara yang tidak lazim. Menurut laporan dari Economic Times, total kekayaan Bharat Jain diperkirakan mencapai Rs 7,5 crore rupee, atau setara dengan lebih dari Rp 14 miliar. Angka ini sungguh mencengangkan, mengingat profesi utamanya adalah mengemis di jalanan.
Lahir dari keluarga yang secara ekonomi kurang mampu, Bharat Jain tidak memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan formal. Ketiadaan ijazah membuatnya kesulitan mendapatkan pekerjaan yang stabil dan layak. Namun, alih-alih menyerah pada nasib, ia justru menemukan “profesi” yang, siapa sangka, mampu mengubah hidupnya dan keluarganya secara drastis.
Dengan hanya mengandalkan kemurahan hati orang lain, Bharat Jain dilaporkan mampu meraup penghasilan antara Rs 60.000 hingga 75.000 (sekitar Rp 11 juta hingga Rp 14 juta) per bulan. Sebuah angka yang jauh melebihi upah minimum rata-rata pekerja di banyak sektor formal.
Bertahun-tahun menjalani profesinya, Bharat Jain berhasil mengumpulkan kekayaan yang tidak hanya berbentuk uang tunai. Ia tercatat memiliki apartemen dua kamar tidur di Mumbai senilai Rs 1,2 crore (sekitar Rp 2,3 miliar), tempat ia dan keluarganya hidup dengan nyaman. Tidak hanya itu, ia juga memiliki dua unit toko yang disewakan di Thane, dengan pendapatan sewa mencapai Rs 30.000 per bulan.
Fenomena ini semakin menarik perhatian karena, meski telah bergelimang harta, Bharat Jain masih terlihat mengemis di lokasi strategis seperti kawasan Chhatrapati Shivaji Maharaj Terminus atau Azad Maidan. Dalam sehari, ia bisa menghasilkan Rs 2.000-2.500 (sekitar Rp 365.000 hingga Rp 500.000) hanya dengan mengemis selama 10 hingga 12 jam. Angka ini kontras dengan realitas banyak pekerja keras yang hanya memperoleh ratusan rupee per hari.
Kehidupan keluarga Bharat Jain saat ini sangat berbeda dari masa lalunya. Anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang layak, dan anggota keluarga lainnya bahkan memiliki usaha toko alat tulis. Ironisnya, meskipun seringkali disarankan untuk berhenti mengemis, Bharat Jain dilaporkan tidak mengindahkan nasihat tersebut dan tetap melanjutkan profesinya hingga saat ini.
Kisah Bharat Jain menjadi cerminan kompleksitas masalah sosial dan ekonomi, sekaligus menunjukkan bagaimana belas kasihan dapat disalahgunakan untuk mengumpulkan kekayaan yang tak terduga. Fenomena ini tentu mengundang perdebatan etis dan sosial, serta pertanyaan tentang bagaimana masyarakat harus menyikapi praktik “pengemis profesional” semacam ini.






