Suarakitanews – Jayapura, Suara Kita News – Di tengah maraknya eksploitasi hutan Papua, masyarakat adat Suku Namblong di Kabupaten Jayapura mengambil langkah revolusioner. Mereka mendirikan PT Yombe Namblong Nggua, sebuah badan usaha milik masyarakat adat (BUMMA) berbentuk perseroan terbatas pertama di Indonesia.
Langkah ini bukan hanya simbol perlawanan terhadap deforestasi di Papua, tetapi juga menjadi model baru pembangunan ekonomi berbasis adat dan pelestarian lingkungan.
Melawan Deforestasi Lewat Kedaulatan Ekonomi Adat
Selama hampir dua dekade terakhir, sekitar 33.000 hektare hutan Papua hilang setiap tahun akibat pertambangan dan perluasan perkebunan. Menyadari ancaman ini, Suku Namblong membentuk perusahaan sendiri untuk melindungi hutan adat mereka yang luasnya mencapai 52.765 hektare—seperempat dari luas Singapura.
Dengan kepemilikan saham tersebar di antara 44 kepala marga, PT Yombe bertujuan mencapai kemandirian ekonomi, pelestarian hutan, dan kesejahteraan masyarakat adat.
Dipimpin Perempuan Muda: Bukti Perubahan Sosial di Tanah Adat
Yang menarik, posisi Direktur Utama perusahaan ini dipegang oleh Yohana Yokbeth Tarkuo, seorang perempuan muda berusia 29 tahun. Dalam sistem adat yang selama ini menempatkan laki-laki sebagai pemimpin, penunjukan ini menjadi angin segar.
“Walau dalam adat perempuan jarang diberi ruang memimpin, ini adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa kami setara,” ujarnya.
Dari Vanili hingga Ekowisata: Unit Usaha Berbasis Alam dan Budaya
Hingga kini, PT Yombe telah menjalankan enam unit usaha: kehutanan, ekowisata, pertanian, perikanan, peternakan, dan pengolahan vanili Papua yang berkualitas tinggi. Salah satu yang sudah berjalan baik adalah rumah pengeringan vanili, yang menjadi pusat produksi sekaligus edukasi bagi petani lokal.
Selain itu, ekowisata Kali Biru menjadi daya tarik tersendiri. Dengan paket susur sungai, wisatawan disuguhi cerita rakyat dan keindahan alam yang masih asri—sekaligus menjadi cara masyarakat menjaga lingkungannya.
Membangun Masa Depan Tanpa Harus Kehilangan Hutan
Selain mengembangkan unit usaha, PT Yombe juga fokus pada rehabilitasi hutan yang gundul akibat pembalakan liar dan sengketa lahan sawit. Ratusan bibit pohon lokal seperti matoa, marbau, hingga linggua kini disemai kembali di lahan adat.
Tujuannya jelas: hutan tetap lestari, namun tetap memberi nilai ekonomi bagi masyarakat.
Model Ekonomi Adat yang Siap Direplikasi
Menurut Abdon Nababan, mantan Sekjen AMAN yang kini menjadi pendamping melalui Mitra BUMMA, model ini sangat mungkin direplikasi oleh ratusan suku lain di Papua.
“Kalau setiap suku punya badan usaha seperti ini, wajah ekonomi Papua akan berubah. Ini bukan hanya soal ekonomi, tapi juga soal keberlanjutan hutan dan budaya kita,” jelasnya.
Penulis: Mita Putri






