Suara Kita News.com Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) kembali menuai kritik pedas dari masyarakat terkait kinerja mereka dalam menangani kasus-kasus kekerasan dan penelantaran anak. Sorotan tajam kali ini muncul atas dugaan praktik pilih kasih dalam penanganan kasus, di mana KPAI dinilai lebih responsif dan intensif dalam mengawal kasus yang melibatkan anak dari kalangan pejabat atau artis, sementara terkesan lamban dan kurang perhatian terhadap kasus yang menimpa anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Gelombang kritik ini mencuat di media sosial, salah satunya melalui unggahan akun Instagram @feedgramindo yang kemudian viral. Dalam unggahan tersebut, KPAI dituding “gercep dikawal sampai ngesot” jika kasus melibatkan anak dari keluarga berada atau tokoh publik, namun cenderung “diem-diem saja” jika korban berasal dari keluarga miskin dan kasusnya belum viral.
Sebagai contoh konkret, warganet menyoroti kasus seorang anak perempuan berusia 7 tahun asal Cimahi yang diduga dibawa kabur oleh ayahnya ke Nias Selatan. Lebih memprihatinkan, ayah kandung korban disebut-sebut kerap menggunakan narkoba jenis sabu di hadapan anaknya. Dalam kasus yang jelas-jelas mengancam keselamatan dan tumbuh kembang anak ini,
KPAI dinilai tidak menunjukkan respons atau tindakan yang signifikan.”Contohnya: sekarang ada kasus anak 7 tahun asal cimahi, dibawa kabur ayahnya ke nias selatan, ayahnya sering nyabu didepan anaknya. KPAI diem² saja,” demikian narasi yang tertulis dalam unggahan @feedgramindo, yang kemudian memicu berbagai komentar bernada kekecewaan dan kritik terhadap KPAI.
Kritik ini memperkuat sentimen negatif yang sebelumnya juga sempat muncul terkait penanganan beberapa kasus anak yang melibatkan figur publik. Masyarakat menilai adanya standar ganda dalam penanganan kasus anak, di mana popularitas atau status sosial orang tua korban seolah menjadi penentu tingkat atensi dan tindakan yang diberikan oleh KPAI.
Ketidakpercayaan dan kekecewaan masyarakat terhadap KPAI semakin menguat dengan adanya kasus-kasus seperti anak 7 tahun di Cimahi ini yang terkesan diabaikan. Warganet mempertanyakan komitmen KPAI sebagai lembaga yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam melindungi seluruh anak Indonesia tanpa terkecuali.
Mereka mendesak KPAI untuk lebih proaktif dan responsif terhadap setiap laporan kasus kekerasan dan penelantaran anak, tanpa memandang latar belakang sosial ekonomi keluarga korban.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak KPAI terkait kritik dan tudingan pilih kasih yang dilayangkan oleh masyarakat. Namun, gelombang kekecewaan ini menjadi catatan penting bagi KPAI untuk mengevaluasi dan memperbaiki kinerja mereka agar kepercayaan publik dapat kembali pulih dan perlindungan terhadap seluruh anak Indonesia dapat diwujudkan secara adil dan merata.
Penulis : Yerrydewa
Editor : Hend






