Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Karawang menggelar rapat koordinasi terkait kondisi memprihatinkan bantaran Kali Cikalapa. Pertemuan yang berlangsung hari ini dihadiri oleh sejumlah pihak terkait, termasuk Kepala Desa Wadas, Kapolsek Telukjambe Timur, perwakilan Danramil, para pengelola kawasan industri, perwakilan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum, serta tokoh masyarakat
Desa Wadas.

Rapat ini menjadi sorotan lantaran kondisi Kali Cikalapa yang semakin mengkhawatirkan. Sebelum dimulainya diskusi, para peserta disuguhkan gambaran kondisi terkini melalui paparan visual tahun 2021. Dalam tayangan tersebut terlihat jelas kerusakan infrastruktur seperti jembatan di RT 01 RW 06
yang ambruk, banyaknya pohon tumbang di RW 06, hingga kuburan yang tergerus aliran sungai.

Kepala Desa Wadas mengungkapkan keprihatinannya atas dampak erosi Kali Cikalapa yang telah merenggut aset warganya. “Di RT 01 RW 06, sudah ada 10 rumah warga yang tergerus. Padahal tanah tersebut memiliki sertifikat,” ujarnya dengan nada kecewa. Lebih lanjut, ia menyinggung
janji mantan Bupati Karawang, Cellica Nurrachadiana, pada tahun 2021 yang berjanji akan mengganti lahan warga yang terdampak. “Namun, hingga saat ini janji tersebut belum terealisasi,” tegasnya.
Kondisi di wilayah Harmoni juga tak kalah memprihatinkan. Sebagian area yang sempat dicor kini mengalami longsor, sementara jembatan Cibodas memerlukan perhatian serius. Ironisnya, proyek turap yang dikerjakan pada tahun 2013 menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) kini
hancur dan betonnya bahkan berada di tengah aliran Kali Cikalapa. Di RT 04 RW 03, keberadaan rumpun bambu yang sudah berada di tengah sungai semakin memperparah kondisi.
Pemerintah Desa (Pemdes) Wadas sebenarnya telah berupaya melakukan normalisasi kali secara gotong royong. Bahkan pada tahun 2021, masyarakat secara swadaya menanam ribuan pohon bambu sebagai upaya menahan longsor. Namun, upaya tersebut tampaknya belum mampu mengatasi permasalahan
yang semakin kompleks.
Kondisi terkini di wilayah Karaba bahkan lebih mengkhawatirkan, di mana longsor telah menutup sebagian aliran kali dan dikhawatirkan akan memutus akses jembatan. “Tahun 2021, hampir satu blok rumah masih terlihat, sekarang sudah tidak tampak lagi,” ungkap salah seorang warga
dengan nada prihatin, kembali mengingatkan janji ganti rugi yang belum terealisasi.
Kades H. Jujun mengungkapkan bahwa perjuangan untuk penanganan Kali Cikalapa telah dilakukannya selama 15 tahun. “Baru pada tahun 2021 ada perhatian dari pemerintah, dengan beberapa kali pertemuan,” katanya. Ia juga menyinggung pernyataan mantan Bupati Cellica yang sempat menyatakan
tidak akan menandatangani Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) jika pihak pengembang belum membangun embung.
Aktivis lingkungan yang turut hadir dalam rapat tersebut menjelaskan pentingnya fungsi embung dalam mengatur debit aliran air ke sungai alami. Ia menyayangkan belum semua pengelola kawasan industri membangun embung sesuai dengan ketentuan.
H. Ranjes, aktivis Paguyuban Sunda Wani, menyoroti konsistensi PT KIIC (Karawang International Industrial City) yang dinilai sebagai satu-satunya pihak pengembang yang secara konsisten memperbaiki kondisi Kali Cikalapa sesuai arahan Pemkab Karawang sejak tahun 2021,
pembangunan embung oleh KIIJ pun tidak selesai sepenuhnya. Kepala Desa Wadas mengungkapkan
bahwa pada tahun 2021, KIIJ hanya menyewa alat berat selama 100 jam, sehingga pembangunan embung terhenti.
H. Ranjes menduga bahwa banjir Kali Cikalapa salah satunya disebabkan oleh belum dibangunnya embung oleh pihak Rolling Hills. Ia menjelaskan bahwa persyaratan pembangunan embung untuk kawasan industri umumnya meliputi aspek teknis, lingkungan, dan perizinan. Embung harus dibangun di
lokasi yang aman, memiliki sumber air yang cukup, dan tidak mengganggu lingkungan sekitar. Selain itu, izin penggunaan sumber daya air dan izin konstruksi juga diperlukan.
Menutup rapat koordinasi, Kepala Desa Wadas menyampaikan ultimatum. “Jika dalam pertemuan ini tidak ada solusi yang lebih baik, lebih baik bubar. Saya akan menyerahkan permasalahan ini kepada masyarakat,” tegasnya, menunjukkan kekecewaan dan mendesaknya penanganan konkret terhadap kondisi Kali Cikalapa.
Penulis : Yerrydewa
Editor : Hend






