Polemik biaya perpisahan siswa SMP PGRI Telukjambe, Karawang, mencuat setelah seorang wali murid mengeluhkan pungutan sebesar Rp1,1 juta. Keluhan ini muncul di tengah rencana perpisahan yang hanya akan digelar di lingkungan sekolah. dilangsir dari ONEDIGINEWS.COM
“Biaya yang cukup besar kalau menurut saya, hanya sekadar perpisahan di sekolah sampai Rp1 juta, membuat saya lebih syok lagi, uang wisuda saja Rp100 ribu,” ungkap J, seorang wali murid yang berprofesi sebagai pekerja serabutan.
J mengaku keberatan dengan biaya tersebut, terutama dalam kondisi ekonomi yang sulit. “Apalagi dengan situasi sulit uang seperti ini. Saya memang ikut rapat, tapi ya, gimana mau menolak juga nilai biaya sudah dikeluarkan atau ditentukan oleh pihak sekolah Rp1 juta, jadi pro dan kontra orang tua murid cuma bisa jadi keluhan. Kalau wisuda mah memang kita ibu-ibu sepakat Rp100 ribu,” keluhnya.
J meminta identitasnya dirahasiakan karena adanya pesan dari Kepala Sekolah SMP PGRI Telukjambe saat rapat agar wali murid tidak memberikan pernyataan kepada publik. “Kepala sekolah berpesan kepada ibu-ibu untuk tidak mengatakan apapun kepada siapapun,” tegasnya
.Kepala Sekolah SMP PGRI Telukjambe, Anita Anggareni, membantah adanya biaya perpisahan sebesar itu. “Tidak ada, jangankan Rp1 juta. Sekolah anak-anak kami sebagian besar kurang mampu. Sepertinya salah info,” kata Anita melalui pesan WhatsApp pada Rabu (19/3/2025).
“Sepertinya orang tua yang Anda wawancarai tidak pernah ikut rapat, Bu, dan kami mengikuti sesuai aturan. Dan sudah direvisi masalah biaya sesuai aturan yang berlaku saat ini,” imbuhnya.
Ketika dikonfirmasi mengenai kartu bertuliskan “Kartu Sumbangan” berlogo PGRI yang digunakan untuk iuran wajib siswa sebesar Rp100 ribu per bulan, Anita tidak memberikan jawaban.Kasus ini menimbulkan pertanyaan tentang transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan dana sekolah, serta perlunya komunikasi yang lebih baik antara pihak sekolah dan wali murid
Penulis : Hend
Editor : Yerrydewa






