Lombok Barat Suara Kita News,com – Gemerlap kapal pesiar yang bersandar di Pelabuhan Gili Mas, Lembar, Nusa Tenggara Barat (NTB), ternyata tidak sebanding dengan pundi-pundi pendapatan yang masuk ke kas daerah. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) NTB dibuat tercengang dengan minimnya retribusi yang disetor PT Pelindo, selaku pengelola pelabuhan.
“Hanya 5 persen retribusi untuk sekali bongkar muat? Ini sangat kecil!” tegas seorang anggota DPRD NTB, yang enggan disebutkan namanya. Pertanyaan pun mengemukaan ke mana larinya sisa keuntungan? “Bagaimana model devidennya? Berapa bagian pusat, provinsi, dan kabupaten?”
Jika 29 kapal pesiar merapat, PT Pelindo meraup Rp 5,8 miliar. Namun, Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang masuk tak lebih dari Rp 300 juta. “Dengan pola seperti ini, untuk apa ada Pelabuhan Gili Mas?” geram Kunto Wibisono, General Manager PT Pelindo.
Menurut Wibisono, pendapatan dari kapal pesiar dialokasikan untuk pengembangan Gili Mas. Retribusi per kapal pesiar mencapai Rp 200 juta. Sejak 2025, 22 kapal pesiar telah singgah.
Gili Mas memang memiliki potensi besar. Selain pelabuhan pesiar, ada pula Tugu Mas, pelabuhan yacht, dan rencana pelabuhan peti kemas yang dirancang menyerupai Tanjung Perak. Pembangunan tahap awal dilakukan dengan mereklamasi 15 hektare lahan pantai.
Namun, pertanyaan besar tetap menggantung: apakah Gili Mas akan menjadi berkah bagi daerah, atau hanya menguntungkan segelintir pihak? DPRD NTB berjanji akan mengusut tuntas masalah ini.






