Suara Kita News,com -Karawang, yang dikenal dengan geliat industri dan pembangunan infrastruktur, menyimpan ironi yang mendalam. Di tengah gemerlapnya kota, masih ada potret kemiskinan yang memilukan, seperti yang dialami Bapak Jaja di Dusun Merakan, Desa Karyabakti, Kecamatan Batujaya.
Rumah Jaja, yang berdindingkan anyaman bambu lapuk dan seng berkarat, menjadi saksi bisu perjuangan keluarga ini. Lantai tanah yang becek saat hujan, atap yang bocor, dan dinding yang rapuh, mengancam keselamatan Jaja, istri, dan kedua anaknya.
“Setiap hujan, kami tidak bisa tidur. Takut rumah roboh,” ungkap Jaja dengan suara bergetar, saat ditemui di rumahnya yang memprihatinkan, Rabu (26/02/2025).
Jaja, seorang buruh harian, telah berulang kali mengajukan permohonan bantuan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) kepada pemerintah setempat. Namun, hingga kini, harapannya belum terwujud.
“Ingin rasanya punya rumah yang layak. Tapi, untuk makan sehari-hari saja terkadang tidak cukup,” keluhnya.
Kisah Jaja hanyalah satu dari sekian banyak potret warga Karawang yang masih terpinggirkan. Di tengah masifnya program pembangunan, masih ada kesenjangan yang nyata.
Data dan Fakta yang Mengkhawatirkan Jumlah rumah tidak layak huni di Kabupaten Karawang masih tinggi, meski program Rutilahu telah berjalan..Anggaran yang dialokasikan untuk program Rutilahu belum sepenuhnya menyentuh warga yang membutuhkan.Banyak warga miskin yang tidak memenuhi syarat administrasi, atau kurangnya informasi yang membuat mereka tidak mendapatkan bantuan.
Pemerintah daerah perlu meningkatkan sosialisasi program Rutilahu dan mempermudah persyaratan administrasi. Perlu adanya sinergi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat dalam mengatasi masalah Rutilahu.Transparansi dan akuntabilitas dalam penyaluran bantuan Rutilahu harus ditingkatkan.
Kisah Jaja adalah panggilan bagi kita semua untuk lebih peduli terhadap sesama. Di balik gemerlap Karawang, masih ada harapan yang menanti untuk diwujudkan.
Penulis ; dewa
Editor : Yerrydewa






